Di era media sosial yang serba cepat, mata sering kali menjadi penentu utama sebelum lidah merasakan apa pun. Kita berada dalam puncak fenomena ekonomi visual, di mana estetika hidangan dianggap sama pentingnya, atau bahkan lebih penting, daripada cita rasa itu sendiri. Jika sebuah hidangan tidak terlihat “cantik” atau tidak menarik saat diunggah ke platform digital, kemungkinan besar hidangan tersebut akan diabaikan oleh pasar. Fenomena ini menciptakan standar baru di dunia kuliner, di mana makanan yang tidak fotogenik kini sering kali ditolak mentah-mentah oleh konsumen modern.
Restoran dan kafe kini tidak hanya berinvestasi pada koki berbakat, tetapi juga pada desainer tata saji dan pencahayaan studio. Mengapa hal ini terjadi? Karena bagi generasi digital, pengalaman makan bukan lagi sekadar pemenuhan kebutuhan biologis, melainkan bentuk validasi sosial. Saat seseorang membagikan foto makanan ke media sosial, mereka sedang membangun identitas diri. Sebuah hidangan yang disajikan dengan warna-warni cerah, penataan rapi, dan detail artistik dianggap sebagai konten berkualitas yang mampu mendulang banyak interaksi. Sebaliknya, hidangan yang tampak berantakan atau kusam—meskipun rasanya luar biasa—dianggap sebagai kegagalan visual.
Tekanan untuk tampil sempurna ini memaksa industri kuliner untuk beradaptasi dengan sangat drastis. Banyak resep tradisional yang sebenarnya lezat namun memiliki tampilan “berantakan”—seperti bubur ayam, rawon, atau masakan yang direbus lama—kini dipaksa untuk bertransformasi. Kita melihat munculnya tren plating minimalis, penggunaan bahan dekoratif seperti bunga yang bisa dimakan (edible flowers), hingga teknik pencahayaan khusus di meja restoran agar makanan terlihat lebih menonjol di kamera ponsel.
Namun, ada sisi ironis dalam pergeseran ini. Sering kali, rasa otentik justru dikorbankan demi mengejar estetika. Bahan-bahan tambahan yang tidak perlu ditambahkan hanya agar makanan terlihat lebih berwarna, atau tekstur alami makanan dirusak demi mencapai bentuk yang simetris di dalam bingkai foto. Akibatnya, banyak makanan yang “indah dipandang tapi hambar di lidah.” Konsumen terjebak dalam ekspektasi visual yang dibangun oleh algoritma, dan ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi tersebut, rasa kecewa muncul dengan cepat.