Saji by Food: Ketika Makanan Sederhana Jadi Bintang di Instagram.

Fenomena Saji by Food di media sosial membuktikan bahwa Makanan Sederhana memiliki daya tarik visual dan emosional yang luar biasa, sering kali mengungguli hidangan fine dining yang rumit. Di era visual, popularitas sebuah hidangan tidak hanya ditentukan oleh rasa, tetapi juga oleh storytelling dan aesthetic yang disajikan di platform seperti Instagram dan TikTok. Ketika Makanan Sederhana seperti nasi goreng, mi instan yang diolah kreatif, atau jajanan pasar disajikan dengan plating yang apik dan pencahayaan yang tepat, ia dapat memicu tren viral dan mengumpulkan engagement yang masif dari jutaan pengguna.

Daya tarik visual Makanan Sederhana terletak pada keotentikannya. Konten yang menampilkan proses memasak yang jujur, bahan baku yang mudah ditemukan, dan hasil akhir yang menggiurkan, menciptakan koneksi yang lebih kuat dengan audiens. Sebuah akun food vlogger populer dengan nama pengguna @RasaNusantara, yang berfokus pada kuliner rumahan, melaporkan bahwa post yang menampilkan resep Tempe Orek sederhana dengan caption nostalgia berhasil mendapatkan 4,5 juta views dan 300 ribu likes dalam waktu 48 jam. Data ini dicatat pada hari Kamis, 7 November 2024, dan menunjukkan bahwa kemudahan untuk meniru resep tersebut menjadi faktor utama viralitasnya.

Popularitas Makanan Sederhana juga berdampak langsung pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Warung makan atau pedagang kaki lima yang tadinya hanya dikenal di lingkungan sekitar kini bisa mendapatkan exposure nasional. Sebagai contoh, Sei Sapi Sambal Matah yang merupakan hidangan yang pada dasarnya sederhana, mengalami peningkatan penjualan sebesar 70% setelah diulas secara visual oleh beberapa influencer di Instagram. Pemilik gerai Sei Sapi Bang Jo, Bapak Joko Priyanto, melaporkan peningkatan pendapatan harian rata-rata dari Rp 3 juta menjadi Rp 5,1 juta hanya dalam waktu satu bulan setelah ulasan tersebut tayang.

Aspek emosional juga berperan besar dalam fenomena Saji by Food. Konten yang menampilkan Makanan Sederhana seringkali memicu urban rasa rindu dan nostalgia, mendorong audiens untuk mengunjungi tempat makan tersebut atau mencoba membuatnya sendiri. Hal ini menciptakan siklus engagement yang berkelanjutan. Tim riset dari Institut Kajian Media dan Komunikasi (IKMK) di Jakarta mencatat bahwa hashtag terkait makanan rumahan seperti #MasakanIbu dan #JajananJadul memiliki tingkat interaksi pengguna ($55$ interaksi per 1000 followers) yang lebih tinggi dibandingkan hashtag makanan mewah ($38$ interaksi per 1000 followers). Data ini dikumpulkan selama periode Januari hingga Maret 2025.

Kesimpulannya, Saji by Food menunjukkan bahwa nilai sebuah hidangan tidak lagi hanya diukur dari harga atau kerumitan pembuatannya. Makanan Sederhana, dengan keotentikan dan koneksi emosionalnya, telah berhasil menjadi bintang utama di dunia digital. Melalui presentasi visual yang menarik dan storytelling yang tepat, makanan rumahan dapat menjadi kekuatan budaya dan motor penggerak ekonomi bagi pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia.